sekata.id, TANJUNG – Puskesmas Upau di Kabupaten Tabalong menghadirkan inovasi Gerakan Remaja Sadar Potensi Anemia (Gradasi) sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang bahaya anemia.
Inovasi Gradasi ini diterapkan melalui Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) guna memberikan solusi atas permasalahan anemia.
Kepala Puskesmas Upau, Evi Lidia menjelaskan persoalan kesehatan pelajar tidak dapat dipisahkan dari proses tumbuh kembangnya, sehingga kondisi fisik perlu diperhatikan sejak dini, bahkan sebelum seseorang memasuki usia sekolah.
Permasalahan anemia kini terjadi saat jumlah eritrosit atau konsentrasi hemoglobin dalam darah menurun, sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh ikut berkurang.
“Anemia merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, letih dan lesu. Kondisi ini tentu berdampak terhadap kreativitas dan produktivitas,” jelasnya, Senin (24/08/2026).
Menurutnya, anemia juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit ketika dewasa serta berisiko melahirkan generasi dengan masalah gizi.
Salah satu penyebab anemia yaitu kurangnya asupan zat besi yang dapat menyebabkan penurunan konsentrasi hemoglobin dan kapasitas darah dalam mengangkut oksigen.
“Anemia juga banyak terjadi pada kelompok yang mengalami pertumbuhan cepat, seperti anak usia 6 bulan hingga 3 tahun, remaja, serta perempuan hamil dan menyusui,” ujarnya.
Selain itu, anemia terhadap remaja memberikan dampak mulai dari menurunnya kesehatan reproduksi, perkembangan motorik dan mental, hingga terhambatnya kecerdasan.
Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan prestasi belajar, kebugaran serta menghambat pencapaian tinggi badan maksimal. Anemia yang tidak tertangani hingga masa kehamilan dapat berdampak pada kondisi janin.
Ibu hamil yang mengalami anemia disebut memiliki risiko tiga kali lipat mengalami kejadian stunting pada balita dibandingkan ibu hamil yang tidak mengalami anemia.
Program pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri kembali digalakkan yang dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah dengan dosis pencegahan satu kali dalam seminggu dan satu kali sehari selama menstruasi.
“Namun, dalam pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah kendala. Berdasarkan hasil wawancara, masih ditemukan remaja putri yang belum mengonsumsi tablet tambah darah yang telah diberikan dan memilih menyimpannya,” ungkap Evi.
Ia mengatakan, kondisi ini masih perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai risiko anemia serta pentingnya memenuhi kebutuhan zat gizi, khususnya zat besi.
Kurangnya pengetahuan ini dapat memengaruhi perilaku remaja dalam memilih makanan sehari-hari, hal itu mengingat pemilihan makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidakcukupan asupan gizi, termasuk zat besi.
Melalui pendidikan gizi, pengetahuan remaja diharapkan meningkat sehingga dapat mendorong perubahan perilaku dalam memilih dan mengonsumsi pangan sumber zat besi sesuai kebutuhan.
“Gradasi nantinya akan membersamai para remaja di lingkungan kerja Puskesmas Upau dalam tumbuh kembangnya,” katanya.
Diharapkannya, kesadaran remaja terhadap anemia semakin meningkat, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah membaik, serta upaya pencegahan masalah gizi dan stunting dapat dilakukan sejak usia remaja. (sah)






