sekata.id, TANJUNG – Sarabakawa Cup edisi ke-3 berlangsung meriah dan kembali mempertegas posisinya sebagai agenda sepakbola tahunan PSSI Tabalong yang juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Tabalong setiap tahunnya.
Rutin digelar menjadikan Sarabakawa Cup sebagai salah satu Sport Tourism yang merupakan cita Bupati dalam mewujudkan Kabupaten Tabalong menjadi tujuan destinasi wisata di sektor olahraga.
“Bahkan sarabakawa cup pun bisa mewujudkan mimpi bupati Tabalong yang menginginkan Tabalong jadi daerah sport tourism, mengingat event sarabakwa cup menjadi kiblat turnamen sepak bola di kalimantan, khususnya kalimantan selatan,” ungkap Rahmat Illahi, panitia Sarabakawa Cup.
Turnamen ini terus tumbuh, pesertanya semakin siap, kualitas permainannya meningkat, dan dukungan masyarakat kian besar dari tahun ke tahun.
Namun, di balik kesuksesan penyelenggaraan, ada satu kenyataan yang terasa terlalu sering diabaikan, yakni kondisi Stadion Pembataan masih jauh dari kata layak untuk event sebesar ini.
Di beberapa pertandingan, kondisi lapangan kembali menjadi sorotan, rumput yang tidak merata, permukaan lapangan yang keras di sejumlah titik, hingga fasilitas pendukung yang seadanya membuat banyak pihak bertanya-tanya, sampai kapan turnamen sebesar Sarabakawa Cup harus berjalan dengan kondisi seperti ini?.
Panitia memang berusaha keras memperbaiki yang bisa diperbaiki, namun batas kemampuan mereka jelas terlihat.
Masalah utamanya bukan pada penyelenggara, tapi pada infrastruktur yang tidak pernah kunjung dibenahi dan sistem administrasi birokrasi yang berbelit hingga berdampak pada telatnya pembayaran uang hadiah kepada tim-tim juara.
“Semua itu akan terwujud ketika stakeholder terkait bisa mewujudkan fasilitas pendukung serta tidak ada kata keterlambatan pembayaran juara,” beber Rahmat Illahi.
Sebagai turnamen tahunan yang membawa nama besar Sarabakawa dan menjadi kebanggaan warga Tabalong, sudah selayaknya pertandingan digelar di stadion yang benar-benar representatif dan mendukung kualitas kompetisi.
Dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat, mempertahankan kondisi stadion seperti sekarang bukan hanya menghambat perkembangan sepak bola lokal, tapi juga menggerus potensi besar yang sebenarnya bisa dikembangkan.
Sarabakawa Cup edisi ke-3 ini harusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak, terutama bagi para pemangku kebijakan.
Masyarakat pecinta sepakbola pun ramai melontarkan keresahan dan kritikanya melalui platform media sosial PSSI Tabalong.
Para netizen menginginkan adanya kualitas rumput lapangan yang dapat diperbaiki, bench pemain yang sudah mulai rusak, lampu lapangan hingga fasilitas penunjang seperti wc stadion yang kini nampak tidak bisa dipakai.
Keresahan datang sebagai simbol cinta dan kepedulian masyarakat selaku penikmat bola banua agar turnamen yang sudah menjadi agenda tahunan ini dapat diselaraskan dengan fasilitas yang memadai.
Tanpa stadion yang layak, sulit berharap turnamen ini bisa naik level, apalagi menjadi ajang yang diandalkan dalam pembinaan atlet dan pengembangan sport tourism Tabalong.
Pertanyaan pentingnya kini berubah. Bukan lagi sekadar ‘kapan Stadion Pembataan akan bagus?’, tetapi ‘kapan komitmen untuk membenahinya benar-benar bisa diwujudkan?’.
Sebab selama pembenahan hanya jadi wacana, Sarabakawa Cup akan terus berjalan dengan semangat besar yang terjebak dalam fasilitas kecil.
Untuk diketahui Sarabakawa Cup tahun 2025 telah bergulir dari tanggal 15 November 2025 sampai 6 Desember 2025 dengan total 32 partisipasi para peserta. (Ihn)






