Oleh: Erfan Maulana
Dosen dan Pengamat Sosial Politik
Di tengah derasnya arus informasi dan panasnya suhu politik, satu hal yang justru semakin langka adalah akal sehat. Kita hidup di era ketika politik tidak lagi sekadar soal gagasan dankebijakan, tetapi juga soal persepsi, emosi, dan narasi yang terusdiproduksi tanpa henti.
Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai janji, opini, hinggapropaganda yang beredar cepat terutama melalui media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut membantu kitamemahami politik secara lebih jernih. Justru sebaliknya, banyakyang dirancang untuk memengaruhi, bukan mencerahkan.
Di sinilah pentingnya literasi politik.
Politik sejatinya bukan hanya urusan para elit atau politisi. Iahadir dalam setiap aspek kehidupan kita mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kebijakan publik yang kita rasakan sehari-hari. Namun ironisnya, semakin besar pengaruh politik, semakinbanyak pula masyarakat yang memilih untuk menjauh ataubersikap apatis.
Padahal dalam sistem demokrasi, masyarakat bukan sekadarpenonton. Kita adalah penentu arah. Sayangnya, tanpakemampuan berpikir kritis, demokrasi bisa dengan mudahberubah menjadi arena manipulasi di mana emosi lebih berkuasadaripada akal sehat.
Fenomena ini terlihat jelas dalam praktik kampanye politik. Janji-janji besar sering kali lebih menarik dibandingkanpenjelasan yang rasional. Narasi yang emosional lebih cepatviral dibandingkan data dan analisis. Akibatnya, banyakkeputusan politik diambil bukan karena pertimbangan matang, tetapi karena kesan sesaat.
Lebih jauh lagi, media sosial turut memperkuat kondisi ini. Algoritma digital cenderung menampilkan konten yang memancing emosi bukan yang mendorong pemikiran. Kita akhirnya hidup dalam “ruang gema”, di mana hanya mendengarapa yang ingin kita dengar.
Dalam situasi seperti ini, menjadi “waras” dalam politikadalah sebuah sikap yang tidak sederhana.
Waras bukan berarti apatis. Bukan pula berarti menolaksemua hal. Waras berarti mampu menjaga jarak dari euforia, berani mempertanyakan narasi, dan tidak mudah percaya padajanji yang terdengar terlalu sempurna.
Waras berarti tetap berpikir.
Generasi muda memiliki peran penting dalam hal ini. Merekaadalah kelompok yang paling dekat dengan teknologi, tetapijuga paling rentan terhadap banjir informasi. Tanpa literasipolitik yang kuat, mereka bisa menjadi sasaran empukmanipulasi opini.
Karena itu, menjadi melek politik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Tulisan ini merupakan bagian dari refleksi yang lebih luasyang akan saya tuangkan dalam sebuah buku berjudul “TetapWaras di Tengah Hiruk Pikuk Politik: Literasi Politik bagiGenerasi yang Tidak Mau Dibohongi.” Buku ini sedang dalam proses penerbitan dan diharapkan dapat menjadikontribusi kecil untuk mendorong masyarakat terutama generasimuda agar lebih kritis, rasional, dan tidak mudah terseret arusdalam melihat realitas politik.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukanoleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh seberapa warasmasyarakatnya dalam berpikir.
Karena demokrasi tidak runtuh ketika ada politisi yang buruk, tetapi ketika terlalu banyak warga yang berhenti menggunakanakal sehatnya.






