Kesiapan Diri Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M dengan Memperbanyak Amal Salihah dan Menjaga Kamtibmas

(foto: dok pribadi Drs. KH. Sabilal Rusdi, Ketua MUI Tabalong)

Oleh: Drs. KH. Sabilal Rusdi, Ketua MUI Tabalong

Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah yang jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026, umat Islam akan kembali menyambut salah satu momentum agung dalam ajaran Islam. Idul Adha bukan hanya perayaan hari besar keagamaan, melainkan puncak dari rangkaian ibadah haji sekaligus simbol pengorbanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Dalam rangka menyambut momentum mulia ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tabalong, Drs. H. Sabilarrusdi, mengimbau seluruh umat Islam di Bumi Saraba Kawa, khususnya masyarakat Kabupaten Tabalong, untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik secara spiritual maupun sosial.

Bacaan Lainnya

Pertama, Idul Adha hendaknya disambut dengan memperbanyak amal shalih sesuai tuntunan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Hari raya ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan waktu yang tepat untuk merefleksikan nilai ketawakalan kepada Allah SWT dan memperkuat kepedulian terhadap sesama. Bagi umat Islam yang memiliki kemampuan, ibadah qurban hendaknya dipersiapkan dengan baik, dengan memilih hewan qurban yang sehat dan memenuhi ketentuan syariat. Pelaksanaannya pun harus dilandasi niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan takbir sebagai ungkapan syukur atas kebesaran Allah SWT. Gema takbir, tahmid, dan tahlil sejak malam Idul Adha hingga hari-hari Tasyrik merupakan bagian dari syiar Islam yang menghidupkan suasana keimanan. Momentum ini juga harus menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan orang tua. Memaafkan kesalahan, menghapus dendam, serta menumbuhkan kasih sayang menjadi bagian penting dari makna hari raya. Demikian pula dalam pelaksanaan qurban, semangat berbagi kebahagiaan harus diwujudkan melalui distribusi daging qurban yang adil kepada fakir miskin, kaum dhuafa, dan masyarakat yang membutuhkan, termasuk menjaga semangat toleransi dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, menjaga ketenteraman hati dan lingkungan juga merupakan bagian dari wujud ibadah. Keamanan dan kenyamanan bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari kesempurnaan iman. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim adalah orang yang menjaga orang lain dari gangguan lisan dan tangannya. Oleh karena itu, suasana Idul Adha harus dihadirkan dalam nuansa yang penuh keberkahan, ketenangan, dan kepedulian.

Sebelum hari raya, masyarakat diimbau untuk menata niat dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Euforia hari raya tidak seharusnya mendorong seseorang pada perilaku berlebih-lebihan, gaya hidup boros, atau bahkan terjerumus pada utang ribawi yang justru mengabaikan hak-hak kaum fakir. Kesederhanaan yang disertai rasa syukur adalah sikap yang dicintai Allah SWT. Di samping itu, hati juga perlu dibersihkan dari hasad, dengki, dan dendam. Hari raya seharusnya menjadi momen untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang renggang, karena silaturahmi merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Dalam aktivitas perjalanan, termasuk mudik atau bepergian, masyarakat juga diingatkan untuk menghormati hak orang lain di jalan. Setiap nyawa adalah amanah yang harus dijaga. Ketaatan terhadap aturan lalu lintas tidak semata karena pengawasan aparat, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tidak mencelakai sesama.

Saat pelaksanaan hari raya dan penyembelihan qurban, nilai kasih sayang dan kebersihan harus dijaga dengan baik. Hewan qurban harus diperlakukan dengan penuh rahmah, disembelih secara cepat, tepat, dan tanpa menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Dalam Islam, kasih sayang terhadap makhluk hidup merupakan bagian dari akhlak mulia. Setelah proses penyembelihan, kebersihan lingkungan juga harus menjadi perhatian utama. Sisa darah, kotoran, dan limbah penyembelihan harus segera dibersihkan agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Lingkungan yang bersih adalah bagian dari cerminan iman dan penghormatan terhadap sesama.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghindari perdebatan khilafiyah yang berpotensi meretakkan ukhuwah Islamiyah. Perbedaan dalam tata cara pelaksanaan ibadah hendaknya disikapi dengan lapang dada, karena tujuan utama seluruh umat tetap sama, yakni meraih ridha Allah SWT. Jangan sampai hari yang seharusnya penuh keberkahan justru diwarnai perselisihan yang tidak perlu.

Setelah hari raya berlalu, semangat kebaikan tidak boleh berhenti. Idul Adha harus menjadi titik awal untuk menjaga istiqamah dalam kepedulian sosial. Silaturahmi hendaknya tetap terjaga, kepedulian kepada anak yatim, janda tua, tetangga yang sakit, dan masyarakat yang membutuhkan harus terus dilanjutkan. Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim AS juga seharusnya diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kesiapan untuk berkorban waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan umat. Setiap Muslim diharapkan mampu menjadi pribadi yang membawa ketenangan dan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Ketiga, terdapat imbauan khusus bagi para panitia qurban, pengurus masjid, mushalla, dan lembaga qurban di seluruh Kabupaten Tabalong. Sosialisasi mengenai waktu dan lokasi pemotongan harus dilakukan secara jelas agar pelaksanaan berjalan tertib. Peralatan penyembelihan harus dalam kondisi tajam dan bersih, sementara petugas penyembelih harus memiliki keterampilan yang memadai agar proses berjalan sesuai syariat dan meminimalisasi penderitaan hewan.

Selain itu, transparansi dalam pengelolaan dana dan distribusi daging qurban merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kepercayaan umat.

Penggunaan dana harus dilaporkan secara terbuka dan bertanggung jawab sebagai bentuk amanah kepada masyarakat.

Pada akhirnya, Idul Adha tahun ini hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat persatuan, dan bersama-sama mewujudkan Kabupaten Tabalong yang Rahmatan lil ‘Alamin. Umat Islam harus menunjukkan jati dirinya sebagai agen perdamaian, penjaga keamanan, dan pelopor kebaikan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pos terkait