sekata.id, TANJUNG – Keterbatasan guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 1 Haruai di Kabupaten Tabalong dalam menghadirkan layanan pendamping bagi peserta didik tidak menjadi penghalang.
Melalui inovasi Belajar Bimbingan Konseling dengan Terampil Melalui Modul BK (Bertemu BK) sebagai modul layanan konseling berbasis modul yang mampu menjawab kebutuhan siswa sekaligus memperkuat pendidikan karakter.
Kepala SMPN 1 Haruai, Dwi Rahmiyati menjelaskan, inovasi ini lahir karena kondisi sekolah yang selama ini belum memiliki guru BK tetap dalam melayani konseling bagi siswa kelas VII, VIII, dan IX.
Penanganan permasalahan para siswa lebih banyak dilakukan wali kelas yang bukan berlatar belakang guru BK, bidang kesiswaan hingga kepala sekolah.
“Kondisi ini tentu menjadi tantangan karena tidak semua memiliki kompetensi khusus di bidang bimbingan dan konseling,” jelasnya, Minggu (28/06/2026).
Sebelum diterapkannya inovasi ini, rata-rata ada sekitar 10 permasalahan para siswa yang harus ditangani setiap bulan.
Dari kondisi itu, SMPN 1 Haruai menghadirkan inovasi Bertemu BK yang merupakan layanan pembelajaran menggunakan modul BK, dirancang lebih menarik, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Modul ini memuat materi mulai dari pengenalan diri, pendidikan karakter, keterampilan bersosialisasi, pencegahan perundungan (bullying), pengelolaan emosi, hingga perencanaan pendidikan dan karier.
Penyajiannya juga dilengkapi dengan contoh kasus nyata, latihan, dan aktivitas kelompok sehingga siswa lebih mudah memahami materi.
“Siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menyelesaikan persoalan pribadi, membangun karakter, meningkatkan kemampuan sosial, hingga mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Dwi.
Implementasi inovasi Bertemu BK diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan siswa melalui observasi dan pengumpulan data.
Selanjutnya dilakukan perencanaan layanan, pelaksanaan pembelajaran BK, evaluasi hasil layanan, hingga pemantauan perkembangan siswa sebagai bahan tindak lanjut.
Hasil dari penerapan menunjukkan dampak yang positif dengan jumlah kasus siswa yang sebelumnya mencapai sekitar 10 kasus setiap bulan, kini menurun menjadi hanya satu hingga dua kasus.
Selain itu, sekolah memberikan apresiasi kepada dua siswa setiap semester yang dinilai memiliki karakter dan sikap sopan santun terbaik.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi siswa agar terus membangun karakter positif, sekaligus menciptakan budaya sekolah yang lebih baik,” ujarnya.
Dwi pun berharap, layanan bimbingan dan konseling tetap dapat berjalan optimal meski sekolah belum memiliki guru BK definitif.
“Semoga ini menjadi alternatif yang dapat diterapkan di sekolah lain yang menghadapi persoalan serupa, sehingga pelayanan kepada siswa tetap berkualitas dan berorientasi pada penguatan karakter,” harapnya. (sah)






