sekata.id, TANJUNG – Upaya mewujudkan satuan pendidikan yang ramah anak, aman, inklusif, dan bebas dari perundungan, terus menjadi perhatian berbagai pihak khususnya di SDN 2 Pembataan, Kecamatan Murung, Kabupaten Tabalong.
Salah satu tantangan yang dihadapi sekolah adalah proses adaptasi peserta didik yang baru memasuki lingkungan belajar, terutama siswa kelas I dan siswa pindahan.
Peserta didik membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, diterima, dan dihargai sehingga dapat berkembang secara optimal baik secara akademik maupun sosial-emosional.
Dari permasalahan ini, Guru Kelas I SDN 2 Pembataan, Frida Aritatul Rahmawati, menginisiasi inovasi Sahabat (Santun, Hangat, Bahagia, Taat) sebagai strategi membangun budaya positif di lingkungan sekolah.
Inovasi ini dirancang untuk memperkuat proses adaptasi siswa baru dan siswa pindahan melalui pendekatan yang humanis, kolaboratif, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak anak dalam memperoleh lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta bebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan.
Frida menjelaskan, Sahabat merupakan inovasi yang mengintegrasikan pendidikan karakter, pembiasaan budaya positif, serta penguatan hubungan sosial antarpeserta didik.
Program ini menanamkan empat nilai utama, yaitu Santun dalam bersikap dan bertutur kata, Hangat dalam membangun hubungan yang saling menghargai dan peduli, Bahagia dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta Taat terhadap tata tertib, nilai-nilai karakter, dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah.
“Fokus utama inovasi Sahabat adalah memberikan pendampingan kepada siswa baru dan siswa pindahan sejak hari pertama berada di sekolah,” jelasnya, Minggu (02/08/2026).
Ia juga mengatakan, melalui berbagai kegiatan yang terstruktur, peserta didik didampingi agar mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar, mengenal warga sekolah, membangun pertemanan yang sehat, serta memiliki keberanian untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalkan potensi terjadinya perundungan sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah.
Implementasi Sahabat dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahapan, meliputi identifikasi kebutuhan peserta didik, sosialisasi kepada seluruh warga sekolah, penyambutan siswa baru dan siswa pindahan.
Selain itu, juga pendampingan teman sebaya (peer support), pembiasaan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), edukasi pencegahan perundungan, kegiatan refleksi, monitoring, serta evaluasi berkala.
“Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, serta komite sekolah sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” katanya.
Dalam penerapannya, inovasi Sahabat menggunakan berbagai media edukatif dan instrumen monitoring, antara lain Jurnal Sahabat sebagai media pencatatan perkembangan perilaku positif peserta didik.
Kemudian, Paspor Sahabat sebagai bentuk apresiasi terhadap pembiasaan karakter, Pojok Sahabat sebagai ruang literasi dan edukasi karakter, poster edukasi anti-perundungan, survei kepuasan warga sekolah, serta kegiatan refleksi yang melibatkan peserta didik.
“Seluruh perangkat tersebut berfungsi sebagai media penguatan budaya positif sekaligus instrumen evaluasi keberhasilan pelaksanaan program,” ungkap Frida.
Diketahui, sejak diterapkannya inovasi ini di SDN 2 Pembataan, dihasilkan dampak yang positif terhadap iklim sekolah di antaranya proses adaptasi siswa baru dan siswa pindahan berlangsung lebih cepat.
Lalu, hubungan antarpeserta didik menjadi lebih harmonis, rasa kepedulian terhadap teman semakin meningkat, serta tercipta lingkungan belajar yang lebih kondusif, nyaman, dan menyenangkan.
Kesadaran seluruh warga sekolah terhadap pentingnya pencegahan perundungan juga semakin kuat melalui pembiasaan perilaku positif yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut Frida, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh kemampuan sekolah dalam menghadirkan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan setiap peserta didik.
“Setiap anak berhak memperoleh pengalaman belajar yang aman, diterima, dan membahagiakan. Melalui inovasi Sahabat, kami berupaya memastikan bahwa siswa baru maupun siswa pindahan tidak hanya datang ke sekolah untuk belajar, tetapi juga merasakan kehangatan, kepedulian, dan perlindungan dari seluruh warga sekolah. Budaya positif yang dibangun bersama merupakan fondasi utama dalam mencegah perundungan dan mewujudkan sekolah yang benar-benar ramah anak,” ujarnya.
Melalui inovasi Sahabat ini, SDN 2 Pembataan berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang berpihak kepada peserta didik melalui penguatan budaya positif, pendidikan karakter, dan pencegahan perundungan.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi oleh satuan pendidikan lainnya sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan sekolah yang ramah anak, aman, inklusif, dan berkualitas bagi seluruh peserta didik. (sah)






