sekata.id, TANJUNG – Suasana hangat terasa di Panti Asuhan Khusnul Khuluq Hidayatullah, Maburai, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, saat puluhan anak dan remaja mengikuti kegiatan Sagensa (Satu GenRe Satu Sahabat), Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan pemberian makanan sehat, tetapi juga menghadirkan pendampingan interaktif yang mengajak anak-anak berbicara tentang kesehatan, gizi, keterampilan hidup, hingga perencanaan masa depan.
Sagensa merupakan program pendampingan berbasis GenRe yang lahir dari kepedulian terhadap anak dan remaja yang tumbuh tanpa sosok pembimbing.
Program ini mengusung konsep “Berbagi Nutrisi, Menumbuhkan Mimpi” dengan tujuan memberikan ruang bagi anak dan remaja untuk mendapatkan informasi sekaligus dukungan dalam mempersiapkan masa depan.
Program ini diinisiasi oleh Bagus Aubrey Atha Rekasina, Wakil II Duta GenRe Kabupaten Tabalong 2025. Pelaksanaannya melibatkan 28 relawan muda dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, PIK-R, pelajar hingga masyarakat umum.
Data Dinas Sosial Kalimantan Selatan mencatat terdapat 1427 anak terlantar di provinsi tersebut. Kondisi itu menjadi salah satu perhatian SAGENSA untuk menghadirkan pendampingan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kedekatan dan menjadi sahabat bagi anak-anak dan remaja.
Sebelum terjun ke lapangan, para relawan mendapatkan pembekalan mengenai GenRe dan teknik pendampingan anak. Materi yang diberikan antara lain TRIAD KRR yang mencakup kesehatan reproduksi remaja, bahaya pernikahan dini, seks pranikah dan NAPZA, serta materi life skill dan teknik menjadi pendamping yang mampu mendengarkan dan memahami anak.
Rangkaian kegiatan kemudian diisi dengan materi mengenai perencanaan masa depan dan gizi seimbang. Para relawan berperan sebagai sahabat yang mendampingi anak-anak untuk berdiskusi dan menyampaikan harapan mereka.
Salah satu sesi yang menjadi perhatian adalah Pohon Mimpi. Dalam sesi tersebut, anak-anak menuliskan cita-cita dan komitmen mereka untuk masa depan. Beragam cita-cita muncul, mulai dari menjadi dokter, guru, polisi hingga keinginan untuk membahagiakan keluarga.
Kegiatan kemudian berlangsung semakin meriah melalui games edukasi mengenai gizi, termasuk permainan menebak nama buah. Sebagai bentuk aksi nyata, kegiatan ditutup dengan pembagian makanan sehat dan susu kepada anak-anak.
Salah satu anak panti, Adit, mengaku mendapatkan pengalaman menyenangkan sekaligus pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Ia berharap para relawan dapat kembali berkunjung dan melanjutkan pendampingan.
“Kakak-kakaknya baik semua. Kami jadi tahu tentang gizi dan cara merencanakan masa depan. Semoga kakak relawan datang lagi,” ujar Adit.
Ketua Yayasan Panti Asuhan Khusnul Khuluq Hidayatullah, Juniansyah, juga menyambut positif kegiatan yang dinilainya memberikan pengetahuan dan motivasi bagi anak-anak di panti.
Menurutnya, pendampingan semacam ini membantu anak-anak memahami pentingnya menjaga kesehatan sekaligus mulai memikirkan masa depan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan positif ini. Anak-anak kami jadi lebih tahu tentang gizi dan siap merencanakan masa depannya,” katanya.
Tidak hanya memberikan dampak bagi penerima manfaat, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman baru bagi para relawan.
Salah seorang relawan Sagensa, Tiya, mengatakan keterlibatannya menjadi kesempatan pertama baginya untuk mendampingi kelompok rentan secara langsung.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi remaja untuk terlibat dalam kegiatan sosial sekaligus memberikan dampak positif bagi kelompok yang membutuhkan pendampingan.
“Kegiatan ini sangat baik dan pertama kali diadakan di Kabupaten Tabalong. Ini membuka kesempatan bagi remaja untuk ikut berdampak bagi kelompok rentan,” ujarnya.
Relawan lainnya juga merasakan manfaat dari pembekalan yang diberikan sebelum kegiatan. Pembekalan tersebut dinilai membantu para relawan ketika berinteraksi dengan anak-anak, khususnya dalam memahami kondisi dan kebutuhan mereka.
“Kami belajar mendengarkan dan memahami mereka. Ternyata dampaknya juga besar untuk kami,” katanya.
Ke depan, Sagensa menargetkan program tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti lembaga CSR, NGO, BKKBN, serta Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan pendanaan, penguatan kebijakan hingga memperluas akses lokasi pelaksanaan program.
Sagensa juga menargetkan kehadirannya dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan wilayah di Kalimantan Selatan melalui program SAGENSA Bergerak.
Sasaran program tidak hanya anak dan remaja di panti, tetapi juga anak jalanan, kelompok rentan, remaja, ibu hamil hingga orang tua.
Selain pendampingan, peserta nantinya ditargetkan mendapatkan Kartu Sehat Sagensa sebagai bekal informasi praktis mengenai kesehatan. Program tersebut juga diarahkan untuk membuka akses informasi pendidikan dan beasiswa, khususnya bagi anak jalanan dan kelompok rentan, sehingga dapat membantu meringankan beban pendidikan mereka.
Inisiator Sagensa, Bagus Aubrey Atha Rekasina, berharap program tersebut dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat di berbagai wilayah Kalimantan Selatan.
“Kami ingin Sagensa hadir di setiap wilayah, menjangkau lebih banyak anak jalanan, kelompok rentan, dan remaja yang tidak mendapatkan informasi gizi. Satu langkah kecil dari kita, bisa menjadi lompatan besar bagi masa depan mereka,” pungkasnya. (ihn)






