sekata.id, TANJUNG – Kondisi air Sungai Jaing di Kabupaten Tabalong yang diduga tercemar, dikeluhkan masyarakat Desa Masukau, Kecamatan Murung Pudak.
Kondisi air Sungai Jaing yang tercemar saat ini sudah ketiga kalinya berwarna coklat kehitaman dalam satu bulan terakhir.
“Warnanya sudah coklat kehitaman seperti air comberan,” ungkap perwakilan Masyarakat Masukau, Suwardi, Rabu (04/03/2026).
Sungai Jaing yang tercemar ini sudah terjadi sejak sore kemarin dalam kondisi air sedang surut dan tidak ada hujan.
Masyarakat yang bermukim di sekitar aliran Sungai Jaing masih memanfaatkan setidaknya 75 KK teruntuk di RT 3 dan RT 4 Desa Masukau untuk kebutuhan sehari-hari.
“Air sungai masih digunakan sebagian warga untuk mandi dan mencuci. Bahkan juga menjadi sumber air untuk program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat),” katanya.
Dijelaskannya, kondisi air yang tercemar ini, masyarakat yang masih memanfaatkan mengalami gatal-gatal hingga bintik merah.
Pihaknya pun meminta agar pemerintah daerah dan unsur terkait untuk mencarikan solusi terhadap pencemaran air Sungai Jaing saat ini
“Kalau berlarut-larut kasian warga. Paling tidak ada bantuan air bersih. Untuk DLH sudah dihubungi Kepala Desa,” jelasnya.
Menurut Wardi, pencemaran air tersebut berasal dari hulu Sungai Jaing yang terpantau di jembatan berdekatan dengan pabrik karet Bumi Jaya sudah berwarna coklat kehitaman.
Sehingga pihaknya pun menduga bahwa pencemaran air Sungai Jaing dari hulu akibat aktivitas pertambangan yang sudah beroperasi.
“Mudah-mudahan tidak terulang lagi, jangan sampai seperti ini. Dan apabila memang diakibatkan oleh perusahaan, ada i’tikad baik terhadap warga,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Desa Masukau, Khairullah menyampaikan hal yang sama bahwa kondisi air Sungai Jaing saat ini tercemar.
“Kondisinya memang beda dari saat normal, warnanya coklat kehitaman,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan, pihaknya juga melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabalong dan sudah turun ke lapangan untuk mengambil sampel air di empat titik lokasi.
“Empat titik lokasi, pertama di jembatan Atuy Pertamina, titik dua jembatan Bumi Jaya, dan yang ketiga di dekat muara Sungai Jaing yang jadi objek wisata dan dekat mesin pompa Pamsimas,” ungkapnya.
Khairul juga meminta agar pihak-pihak terkait bisa membantu masyarakat untuk bantuan air bersih agar bisa dikonsumsi masyarakat.
“Jika tidak ada penanganan serius dari pihak pemerintah ataupun instansi terkait, ini juga akan berdampak terhadap objek wisata sungai di Masukau,” mintanya.
Diketahui, aliran hulu Sungai Jaing bagian hulu berasal dari kawasan Kecamatan Upau ke atas dan bermuara di Desa Masukau yang menjadi pertemuan Sungai Tabalong. (sah)






