Memanusiakan ‘Walid’ dari Kultus ‘Haman’

Presidium Majelis Daerah KAHMI Tabalong, Kadarisman (foto: dok pribadi kadarisman)

Oleh: Kadarisman (Presidium Majelis Daerah KAHMI Tabalong)

Kabar pilu kembali mengoyak nurani publik. Seorang kiyai, pengasuh di satu pondok pesantren, Tlogowungu, Pati Jawa Timur, telah mengoyak moral bangsa ini.

Bacaan Lainnya

Kejadian yang baru ini terjadi mengingatkan kita kisah Walid pada serial Bid’ah dari negeri tetangga, Malaysia yang beberapa waktu lalu sangat viral. Tontonan itu diputar hingga 2,5 milyar kali di Indonesia dan Malaysia. Sebuah penayangan yang mencengangkan.

Cerita Walid dalam serial Bid’ah itu merupakan kisah nyata di penghujung tahun 90-an. Malaysia ketika itu gempar oleh seseorang yang bernama Walid.

Sosok di balik imperium spiritual Al-Arqam itu tidak hanya membangun kemandirian ekonomi, tetapi juga sebuah menara kultus yang menjulang tinggi.

Di mata para pengikutnya, Walid adalah pintu menuju surga; setiap bicaranya adalah titah langit, dan setiap tindakannya adalah “karamah” yang tak boleh dipertanyakan.

Namun, hikayat mencatat akhir yang pahit. Di balik jubah kealiman itu, tersimpan praktik penyimpangan dan kendali seksual yang menghancurkan harkat kemanusiaan para pengikutnya demi memuaskan ego sang “Pemimpin Suci”.

Sayangnya, menara kesombongan ala Walid ini tidak pernah benar-benar runtuh dari muka bumi. Ia hanya berpindah tempat dan berganti wajah. Berpindah dari Malaysia ke Wilayah Pati, Jawa Timur dan beberapa kasus yang pernah ada juga terjadi di Kalimantan Selatan.

Tokoh pengasuh pondok yang seharusnya sebagai panutan moral bagi jiwa-jiwa yang dahaga ilmu justru menjadi pelaku amoral. Kini, ia ditersangkakan karena diduga melakukan pelecehan terhadap lima puluhan santriwatinya.

Kejadian serupa ini tidak terjadi saat ini saja, melainkan berulang hampir di saban tahun di berbagai daerah. Angka 50 santriwati bukanlah sekadar statistik; itu adalah jeritan trauma yang akan bergema seumur hidup.

Kejadian ini menyentak satu kesadaran fundamental: gelar agama, jubah yang panjang, sorban yang besar atau ribuan santri yang dimiliki bukan sertifikat jaminan ia disaputi hidayah, apalagi tanda kemuliaan mutlak di mata Tuhan.

Sebaliknya, posisi tinggi tersebut seringkali menjadi jebakan Batman yang mematikan jika para pengelola, dan orang lingkaran terdekat sang tokoh berperan laksana “Haman-Haman”, yang pernah membuat Fira’un gagal menjadi pribadi yang sadar.

Dalam narasi sejarah, Firaun tidak berdiri sendiri dalam kesesatannya. Ada sosok Haman, sang menteri yang bukan hanya membangun menara fisik, tapi juga membangun narasi bahwa Firaun adalah Tuhan.

Haman adalah simbol dari pengikut yang melakukan kultus individu secara berlebihan. Ia memvalidasi setiap tindakan sang pemimpin, membungkam nalar kritis, dan terus-menerus meniupkan asap kemegahan dan kemuliaan ke hidung sang tokoh hingga sang tokoh merasa benar-benar tak tersentuh hukum dan moral.

Dalam konteks hari ini, “Haman” adalah mereka yang menyeru memuja tokoh agama secara buta. Mereka yang menganggap guru mereka maksum (suci dari dosa), yang menganggap kritik kepada orang suci sebagai kekufuran, dan yang menutup mata terhadap kebusukan demi menjaga “nama baik” institusi.

Kultus inilah yang perlahan meracuni sang tokoh. Ia yang awalnya alim, perlahan merasa memiliki otoritas ketuhanan atas tubuh dan masa depan orang lain, memperdaya lalu melakukan pelecehan dan kekerasan seksual.

Seorang alim bisa jatuh bukan karena kurangnya referensi kitab yang ia kuasai melainkan karena ia kalah dalam perang melawan ego yang dipupuk oleh pujian pengikut dan jamaah.

Saat seseorang dikultuskan, ia berhenti menjadi manusia yang butuh bertaubat dan mulai merasa sebagai sumber kebenaran. Di titik itulah, hidayah perlahan pamit. Ia tergelincir justru saat berada di puncak tangga yang dikira menuju langit.

Memanusiakan Kembali Sang Tokoh

Pelecehan terhadap puluhan santriwati ini adalah alarm keras bagi kita semua. Kita harus berhenti menempatkan manusia, tokoh agama atau siapa pun dia pada posisi yang maksum layaknya para nabi atau yang menyerupai Tuhan, sekali pun mengaku bisa berbahasa semut dan suryani.

Mengkultuskan manusia hanya akan melahirkan monster-monster baru yang berlindung di balik ayat dan dogma. Seorang tokoh spiritual tetaplah manusia yang bisa salah, bisa khilaf, dan bisa jatuh ke dalam lubang syahwat yang paling rendah.

Tugas jamaah dan pengikut bukanlah menjadi “Haman” yang membenarkan segala tindakan, melainkan menjadi cermin yang berani mengingatkan ketika sang guru, tokohnya mulai melenceng.

Ta’zim atau penghormatan pada guru atau agau tokoh spiritual i adalah harus, namun yang wajib adalah dilandaskan pada ilmu dan akhlaq yang diajarkan, bukan pada cerita supranatural dan status sosial.

Tugas para guru sejatinya pelayan ilmu yang wajjb dihormati sebab lahir dari kesadaran kita pada ilmu yang dimiliki serta aktualisasi akhlaqnya yang karimah, bukan penghormatan yang lahir dari rasa takut kualat dan katulahan apalagi takut dengan ancaman tidak diberi tiket ke surga yang di bawahnya mengalir sungai – sungai susu.

Ilmu yang luas tanpa kerendahan hati hanyalah beban yang menyeret pemiliknya ke dasar jurang. Alim dan berkedudukan bukan jaminan beroleh hidayah. Banyak riwayat pada alim tersesat dengan kealimannya dan meninggal tanpa hidayah, seperti kisahnya Bal’am bin Ba’ura dan lainnya. Namun sebaliknya belum alim dan tak berkedudukan bisa saja dilimpahi hidayah, seperti kisahnya Abu Dharr Al Ghiffari.

Mari, kita berhenti mendewakan manusia Walid, agar tidak ada lagi Walid – Walid dan Haman – Haman yang selalu mencari tumbal. Kita manusiakan mereka agar tidak ada lagi para pencari ilmu menjadi korban di atas altar kesombongan seorang “Firaun” kecil yang dikelilingi para “Haman”.*

Pos terkait