sekata.id, TANJUNG – Permasalahan bau badan siswa dinilai mempengaruhi kenyamanan dan efektivitas proses kegiatan belajar mengajar di SMPN 1 Haruai, Kabupaten Tabalong.
Melalui program Minuman Energik Lokal Agar Tetap Interaktif (MELATI) yang digagas oleh guru matematika SMPN 1 Haruai, Normiati guna mengatasi permasalahan tersebut.
Program tersebut lahir setelah sekolah menemukan masih tingginya jumlah siswa yang mengalami permasalahan bau badan, khususnya saat pembelajaran di siang hari.
Kondisi ini membuat sebagian siswa merasa kurang percaya diri, enggan berinteraksi, bahkan memengaruhi minat serta partisipasi dalam mengikuti pembelajaran.
Normiati menjelaskan, berdasarkan data sekolah, 55 persen siswa kelas VII mengalami permasalahan bau badan, kelas VIII jumlahnya mencapai 65 persen, dan kelas IX mencapai 40 persen.
“Jadi, secara keseluruhan, rata-rata mencapai 53 persen siswa mengalami persoalan bau badan ini,” jelasnya, Minggu (28/06/2026).
Penerapan program MELATI di SMPN 1 Haruai dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga (Toga) yang tersedia di lingkungan sekolah sebagai bahan pembuatan jamu.
“Ini sekaligus menjadi bagian dari pemanfaatan kebun Toga yang dimiliki sekolah sejak meraih predikat sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten pada 2023,” katanya.
Menurutnya, program ini digagas karena memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh, murah, hingga memiliki manfaat bagi kesehatan para siswa.
“Dari situ muncul gagasan untuk mengolahnya menjadi jamu yang bisa membantu mengurangi bau badan siswa sekaligus menjaga kesehatan mereka,” ujar Normiati.
Adapun dalam pelaksanaannya diawali dengan sosialisasi kepada guru dan para siswa, kemudian dilanjutkan dengan bimbingan teknis terkait pengenalan jenis tanaman Toga serta cara mengolahnya menjadi jamu.
Lalu, siswa secara bergiliran membuat jamu setiap satu minggu sekali dan meminumnya bersama di sekolah. Kegiatan tersebut juga disertai monitoring dan evaluasi untuk mengetahui efektivitas program.
Selain itu, program MELATI tidak hanya bertujuan mengurangi bau badan, juga menanamkan keterampilan hidup melalui pemanfaatan tanaman herbal yang ada di lingkungan sekolah.
“Kami ingin siswa tidak hanya sehat dan percaya diri, tetapi juga memiliki keterampilan membuat jamu secara mandiri dengan memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar mereka,” ungkapnya.
Hasil dari implementasi menunjukkan hal positif, tingkat bau badan siswa berangsur menurun sehingga suasana belajar menjadi lebih nyaman, bahkan lebih percaya diri, aktif berinteraksi, dan lebih antusias mengikuti pembelajaran.
“Harapannya Program MELATI dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya bisa dirasakan seluruh warga sekolah, baik dari sisi kesehatan maupun kualitas pembelajaran,” tambah Normiati. (sah)






