sekata.id, TANJUNG — Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada petani dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) terus dilakukan oleh UPTD Balai Perlindungan Tanaman, Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tabalong melalui berbagai inovasi pelayanan.
Sejumlah inovasi seperti Lapor Paman (Layanan Aduan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman), Acil Pantau, Point Opt (Portal Informasi tentang OPT), dan Bertapa (Brigade Perlindungan Tanaman Menyapa) memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh informasi, menyampaikan permasalahan OPT, serta mendapatkan pendampingan secara lebih cepat dan tepat.
Manfaat inovasi tersebut dirasakan langsung oleh pak Mansyah, anggota poktan maluput, Desa Lumbang, Kecamatan Muara Uya.
Menurutnya, keberadaan lapor paman memberikan kemudahan bagi petani ketika menemukan serangan hama maupun penyakit tanaman di lahan.
“Menurut saya lapor paman ini sangat membantu kami sebagai petani. Kalau ada tanaman yang terserang hama atau penyakit, kami bisa segera melaporkan permasalahan tersebut kepada petugas,” ujar Mansyah.
Ia menambahkan, perbedaan layanan saat ini sangat terasa dibandingkan sebelumnya dalam penyampaian aduan di lapangan.
“Dulu kalau ada masalah opt, kami harus menunggu petugas datang atau mencari informasi sendiri. sekarang dengan adanya layanan ini, laporan bisa disampaikan dan ditindaklanjuti dengan lebih mudah. Harapan saya program seperti lapor paman ini terus dikembangkan, karena sangat membantu petani dalam mendapatkan pelayanan pengendalian hama dan penyakit tanaman,” ungkapnya.
Kemudahan memperoleh informasi dan pemantauan kondisi tanaman juga dirasakan oleh pak warjimin, anggota poktan karya tani, Desa Namu, Kecamatan Jaro.
Melalui inovasi acil pantau, petani mendapatkan dukungan dalam kegiatan pemantauan opt sehingga potensi serangan dapat diketahui lebih awal.
“Acil pantau ini sangat bermanfaat bagi kami petani, terutama untuk mengetahui kondisi tanaman dan perkembangan hama maupun penyakit di lapangan,” tutur Warjimin.
Ia menilai deteksi dini menjadi kunci utama agar potensi kerusakan lahan dapat ditekan sedemikian rupa.
“Dengan adanya pemantauan, kami menjadi lebih cepat mengetahui kalau ada serangan opt. Jadi penanganannya juga bisa dilakukan lebih awal sebelum serangannya semakin luas. Pelayanan seperti ini sangat kami butuhkan. Kami berharap petugas terus melakukan pemantauan dan memberikan informasi kepada petani, sehingga kami tidak terlambat dalam melakukan pengendalian,” jelasnya.
Sementara itu, Abdulhadi, anggota poktan harapan makmur, Desa Bila, Kecamatan Upau, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi point OPT (portal informasi tentang opt).
Menurutnya, akses terhadap informasi opt sangat penting bagi petani agar dapat mengenali hama dan penyakit serta memahami langkah pengendalian yang tepat.
“Point opt menurut saya sangat bagus dan bermanfaat bagi petani. informasi tentang hama dan penyakit tanaman menjadi lebih mudah didapatkan,” kata Abdulhadi.
Menurutnya, kemudahan akses informasi membentuk kemandirian para petani di desa.
“Kami sebagai petani kadang menemukan hama atau penyakit yang belum kami kenali. Dengan adanya informasi seperti ini, kami bisa belajar mengenali opt dan mengetahui bagaimana cara pengendaliannya. Informasi yang mudah diakses sangat membantu kami. Jadi kami tidak hanya menunggu petugas datang, tetapi juga bisa meningkatkan pengetahuan sendiri tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman. Saya berharap point opt terus dikembangkan dan informasinya semakin lengkap, sehingga bisa menjadi sumber informasi bagi petani di tabalong,” tambahnya.
Pelayanan secara langsung melalui kegiatan kunjungan dan pendampingan petani juga mendapat respons positif dari Syafrudin, anggota poktan karya bakti, Desa Bongkang, Kecamatan Haruai.
Ia merasakan manfaat dari inovasi bertapa (brigade perlindungan tanaman menyapa) yang menghadirkan petugas perlindungan tanaman secara langsung ke lahan dan kelompok tani.
“Bertapa ini sangat membantu kami karena petugas datang langsung ke lapangan dan melihat kondisi tanaman kami,” tutur Syarifudin.
Kehadiran petugas di lapangan dinilai memberikan kepastian solusi atas kendala yang dihadapi petani.
“Kalau ada hama atau penyakit, kami bisa langsung berdiskusi dengan petugas. Kami juga mendapatkan arahan bagaimana cara melakukan pengendalian yang tepat. Menurut saya pelayanan seperti ini sangat bagus karena petani tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mendapatkan pendampingan langsung di lahan. Kami berharap kegiatan bertapa terus dilaksanakan secara rutin, karena petani sangat terbantu dengan adanya petugas yang datang langsung dan memberikan solusi terhadap permasalahan opt,” pungkasnya.
Keberadaan berbagai inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya uptd balai perlindungan tanaman pangan dan hortikultura Kabupaten Tabalong dalam membangun pelayanan perlindungan tanaman yang lebih cepat, mudah, informatif, responsif, dan dekat dengan petani.
Melalui pemanfaatan teknologi digital yang dipadukan dengan pelayanan langsung di lapangan, petani tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam sistem pengendalian opt.






