Lapsus 60 Tahun Tabalong: Songsong Tabalong Smart, Potensi Wisata dan Budaya Daerah Terus Dikembangkan

Wisata religi Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong (foto: diskominfo tabalong)

sekata.id, TANJUNG – Menginjak usia 60 tahun, Kabupaten Tabalong dengan segala potensi kekayaan alam yang melimpah kini menjadi daya tarik bagi kabupaten yang berjuluk Bumi Saraba Kawa ini.

Kekayaan alam yang melimpah ini khususnya potensi objek wisata alam ataupun buatan yang ada di masing-masing 12 kecamatan yang terus berkembang hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Sesuai dengan tema hari jadinya ke-60 tahun yakni Kolaborasi, Sinergi dan Inovasi untuk Tabalong Smart bahwa keberhasilan pembangunan daerah harus ada keterlibatan seluruh pihak.

Selama kepemimpinan Bupati Tabalong, H Muhammad Noor Rifani dan Wakil Bupati Tabalong, Habib Muhammad Taufani Alkaf yang resmi dilantik sebagai kepala daerah pada 20 Februari 2025 ini sudah melahirkan arah kebijakan melalui visi Program Prioritas Tabalong Smart (Sejahtera, Religius, Maju dan Terdepan).

Visi Tabalong Smart ini memiliki 7 program prioritas yang disusun secara proporsional di antaranya Satu Desa Satu Wifi, Satu Desa Satu Da’i, Tabalong Pasti Sehat, Mencetak 15.000 Tenaga Terampil, 1.000 Beasiswa Sarjana, Jalan dan Jembatan Mantap serta Kredit Tabalong Smart Bunga 0 Persen.

Kabupaten Tabalong yang berada di posisi segitiga emas yang berbatasan dengan dua provinsi yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menjadikannya sebagai jalur strategis yang menghubungkan tiga wilayah penting di Kalimantan.

Tabalong dengan posisi strategis yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata, khususnya wisata alam.

Peringatan hari jadi ke-60 Tabalong ini momentum penting untuk meningkatkan segala potensi alam yang dimiliki hingga pengembangan wisata daerah secara berkelanjutan.

Dalam pengembangan potensi wisata daerah dan budaya terus dilakukan pemerintah daerah melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tabalong.

Potensi wisata yang tersebar pada 12 kecamatan ini setidaknya memiliki 72 destinasi baik wisata alam atau buatan. Puluhan destinasi wisata ini ada beberapa yang menjadi wisata unggulan.

Wisata unggulan ini terbagi dalam tiga wilayah di antaranya wilayah tengah ada Taman Menanti Laburan di Desa Padang Panjang, Kecamatan Tanta. Ada wisata budaya Balai Adat Warukin di Desa Warukin Kecamatan Tanta dan Tanjung Puri Indah yang ada Masjid Cheng Ho bernuansa Tiongkok yang dibangun untuk menarik daya tarik wisatawan atau masyarakat.

Balai Adat Dayak Maaanyan di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong (foto: disporapar tabalong)
Taman Menanti Laburan di Desa Padang Panjang, Kecamatan Tanta sebagai wisata edukasi keluarga dengan berbagai macam fasilitas (foto: disporapar tabalong)

Lalu, wilayah selatan yang sering dikenal sebagai daerah wisata religius dengan destinasi wisata religi yaitu Makam Syekh Muhammad Nafis di Desa Binturu, Kecamatan Kelua. Cagar Budaya Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas dan Taman Sapana di Desa Pematang, Kecamatan Banua Lawas.

Destinasi wisata religi Makam Syekh Muhammad Nafis di Desa Binturu, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong (foto: diskominfo tabalong)

Berikutnya, di wilayah utara ada wisata alam Goa Liang Tapah yang berada di Desa Garagata, Kecamatan Jaro dan Riam Bidadari di Desa Lumbang, Kecamatan Muara Uya yang merupakan destinasi unggulan.

Dalam dua tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan lokal atau mancanegara terus mengalami peningkatan. Pada 2024, kunjungan wisatawan sebanyak 868.503 terdiri dari 868.156 wisatawan lokal dan 347 wisatawan mancanegara, sedangkan pada tahun 2023, kunjungan wisatawan berjumlah 858.781 yang terdiri 857.449 wisatawan lokal dan 332 wisatawan mancanegara.

Kepala Disporapar Tabalong, H Zulfan Noor mengatakan, pengembangan pariwisata dengan segala perkembangan digitalisasi yang modern berbagai program dilakukan salah satunya pemilihan putra dan putri pariwisata.

Pemilihan putra dan putri pariwisata yang terpilih ini akan menjadi promotor untuk mempromosikan wisata selama 1 tahun dengan membuat video promosi wisata dan ekraf.

“Kami juga ada program digitalisasi pariwisata berbasis digitalisasi bekerjasama dengan LPPL Tabalong dalam pembuatan video promosi pariwisata dan ekraf yang ditayangkan di siaran TV dan Videotron di Simpang 4 Nan Sarunai, Monumen Tanjung Puri atau Tugu Obor dan Taman Giat Kota Tanjung,” katanya.

Adapun rencana jangka pendek dalam pengembangan potensi wisata dengan segmentasi lengkap dan terpadu, yaitu segmentasi anak dan keluarga, segmentasi umum, segmentasi minat khusus olahraga dan segmentasi minat khusus religi sehingga mampu menarik wisatawan dari berbagai kalangan.

Sementara, rencana jangka menengah dengan mengembangkan destinasi pariwisata berbasis potensi alam, budaya dan kreasi buatan yang terpadu, inovatif, dan bernilai tambah.

Rencana jangka menengah ini dilakukan dengan identifikasi potensi pariwisata alam, budaya dan buatan, memperkuat potensi dan diversifikasi atraksi setiap destinasi wisata di setiap kecamatan, mengintegrasikan potensi keragaman kuliner dengan aktivitas pariwisata serta menegakkan perizinan dan pertimbangan legalisasi destinasi wisata.

“Untuk jangka panjang sendiri, kami menginginkan terwujudnya pariwisata Kabupaten Tabalong yang unggul dan berkarakter berbasis alam, budaya, dan kreasi buatan, yang berkeadaban dan berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Zulfan.

Di sisi lain, pengembangan potensi budaya daerah yang tidak kalah penting sebagai daya tarik wisata unggulan. Beragam tradisi dan adat istiadat masyarakat yang masih dilestarikan.

Upaya ini dilakukan Disdikbud Kabupaten Tabalong pada bidang kebudayaan yang menjaga kelestarian budaya daerah. Budaya daerah yang dijaga ini di antaranya Aruh Adat yang merupakan upacara syukur atas hasil panen, rezeki ataupun tolak bala yang dilakukan suku Dayak.

Kemudian ada Festival Budaya Dayak Deah dan Festival Budaya Dayak Maanyan yang menampilkan kesenian khas masyarakat Dayak serta Festival Tawas Jaa tradisi lokal yang menjadi identitas budaya masyarakat.

“Potensi budaya ini yang menjadi modal dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Tabalong,” kata Plt Kepala Disdikbud Tabalong, H Hasbi.

Kondisi pelestarian budaya di Tabalong khususnya bidang seni dan budaya terus dilakukan dengan berbagai langkah strategis dengan kegiatan Safari Budaya yang menjadi sarana menampilkan seni dan tradisi lokal serta ruang kreativitas bagi berbagai sanggar seni serta seniman lokal.

Tabalong yang kaya akan seni pertunjukan tradisional seperti Tari Naik Manau dan Tari Balian Bulat sering ditampilkan dalam acara adat maupun festival budaya.

Kekayaan budaya kuliner khas daerah juga sangat banyak, seperti yang dikenal orang banyak masakan Paliat, Bingka Kacung Kelua serta berbagai panganan lokal lainnya.

Selain itu, beragam tradisi lokal masih dijalankan masyarakat Tabalong di antaranya Manyampir Buhaya, ritual adat yang erat kaitannya dengan sejarah lokal, Aruh Mambuntang, upacara adat khas masyarakat Dayak serta Bagunung Perak, tradisi perkawinan adat Dayak.

Tabalong juga memiliki sejumlah situs bersejarah yang menjadi penanda perjalanan panjang peradaban daerah seperti Masjid Pusaka Banua Lawas, masjid bersejarah yang menjadi pusat penyebaran Islam di masa lampau.

Lalu, Makam Penghulu Rasyid, tokoh agama yang berperan besar dalam syiar Islam di Tabalong dan berjuang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dalam Perang Banjar dan Makam Syekh Muhammad Nafis, ulama besar yang dikenal melalui karya monumental ad-Durrun Nafis.

“Situs-situs sejarah ini bukan hanya bernilai religius dan historis, tetapi juga berpotensi menjadi tujuan wisata edukasi,” jelas Hasbi.

Terakhir, penguatan karakter dalam bidang kebudayaan dilakukan sejak dini melalui program Seniman Masuk Sekolah pada tingkat SD dan SMP.

Para pelajar dikenalkan pada seni tradisional serta dilibatkan dalam kegiatan promosi budaya. Program ini tidak hanya melestarikan kearifan lokal, tetapi juga membangun kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah sebagai pewaris masa depan. (sah)

Pos terkait