sekata.id, TANJUNG – Pencegahan stunting di wilayah Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong terus diperkuat Puskesmas Jaro melalui pendekatan 8.000 hari pertama kehidupan (HPK).
Pendekatan ini menempatkan kesehatan dan pemenuhan gizi sejak masa remaja, calon pengantin, kehamilan, bayi, balita hingga masa pertumbuhan anak dan remaja sebagai rangkaian yang saling berkaitan.
Strategi ini dilakukan untuk memastikan pencegahan stunting tidak baru dimulai ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi jauh sebelum kehamilan terjadi.
Pencegahan stunting ini dilakukan dengan menghadirkan dua inovasi yaitu Pantau PMBA dan Konsumsi Suplemen Gizi Terpadu (Pantau Komplit) serta Upaya Peningkatan Pemeriksaan Skrining Layak Hamil dan Monitoring pada Aplikasi Kescatin (Paisan Ikan Patin).
Kepala Puskesmas Jaro, dr Hj Semiatun mengatakan, pencegahan stunting harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak dapat hanya berfokus pada balita, namun dimulai sejak remaja, calon pengantin, ibu hamil hingga bayi serta balita.
“Karena itu, pendekatan 8.000 HPK menjadi penting agar setiap tahapan kehidupan mendapatkan perhatian dan intervensi gizi yang tepat,” katanya, Selasa (11/08/2026).
Menurutnya, keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader, keluarga, pemerintah desa, sekolah, hingga masyarakat.
“Kami di Puskesmas Jaro berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya memberikan edukasi, juga memastikan adanya pemantauan secara berkelanjutan. Harapannya, keluarga semakin memahami pentingnya gizi dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Inovasi Pantau Komplit dikembangkan bertujuan untuk pemantauan terpadu terhadap praktik pemberian makan bayi dan anak (PMBA) serta konsumsi suplemen gizi pada kelompok sasaran.
Pada kelompok bayi dan balita, pemantauan mencakup praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Eksklusif, serta pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) setelah anak berusia 6 bulan.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui apakah praktik pemberian makan sudah sesuai dengan kebutuhan anak dan memberikan pendampingan apabila ditemukan permasalahan.
Sementara, pada kelompok remaja putri dan ibu hamil, Pantau Komplit turut mendorong pemantauan konsumsi suplemen gizi, termasuk kepatuhan mengonsumsi suplemen sesuai anjuran serta pencatatannya.
Melalui pemantauan tersebut, petugas kesehatan tidak hanya mengetahui apakah sasaran telah menerima suplemen, tetapi juga berupaya mengetahui apakah suplemen benar-benar dikonsumsi secara rutin.
Di sisi lain, inovasi Paisan Ikan Patin dikembangkan untuk memperkuat proses pencatatan, pemantauan, dan tindak lanjut hasil pemeriksaan calon pengantin.
Data hasil skrining dapat menjadi dasar bagi petugas kesehatan dalam melakukan monitoring terhadap kondisi kesehatan calon pengantin, termasuk status gizi, pemeriksaan kesehatan, serta faktor risiko yang dapat memengaruhi kesiapan kehamilan untuk pencegahan kelahiran anak dengan risiko stunting.
Paisan Ikan Patin ini juga salah satu upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan skrining layak hamil dengan sistem pencatatan dan monitoring yang lebih terarah, petugas kesehatan dapat lebih mudah mengidentifikasi calon pengantin yang belum melakukan pemeriksaan maupun mereka yang memerlukan tindak lanjut.
Selain memberikan manfaat bagi petugas kesehatan, pemanfaatan Kescatin diharapkan dapat meningkatkan kesadaran calon pengantin mengenai pentingnya mempersiapkan kesehatan sebelum menikah dan sebelum merencanakan kehamilan.
Calon pengantin didorong untuk tidak hanya mempersiapkan aspek administratif dan sosial, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan dalam keadaan optimal. Melalui inovasi ini, pelayanan kesehatan calon pengantin diharapkan menjadi lebih proaktif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Skrining layak hamil yang dilakukan sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan kehamilan yang sehat serta mendukung lahirnya generasi yang berkualitas dan bebas stunting.
Semiatun memandang bahwa pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang, sebab anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mencapai potensi kesehatan, pendidikan, dan produktivitasnya di masa depan.
“Kami berharap inovasi Pantau Komplit dan Paisan Ikan Patin dapat menjadi bagian dari gerakan bersama dalam mencegah stunting di Kecamatan Jaro. Kuncinya adalah konsistensi pemantauan, edukasi yang berkelanjutan, skrining layak hamil, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat,” jelasnya.
Diharapkannya dengan intervensi yang dilakukan sejak remaja hingga masa balita, diharapkan setiap anak di Kecamatan Jaro dapat memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Pencegahan stunting dimulai lebih awal, dilakukan bersama, dan dipantau secara berkelanjutan. Dari remaja hingga balita, dari keluarga untuk generasi yang lebih sehat,” tutupnya. (sah)






