sekata.id, TANJUNG – SMPN 7 Haruai di Kabupaten Tabalong terus berkomitmen meningkatkan minat baca siswa melalui inovasi Baca Sepuluh Menit (Bapamit).
Inovasi ini hadir atas keprihatinan terhadap rendahnya minat baca siswa yang hanya 43 persen pada tahun ajaran 2023/2024 berdasarkan data kunjungan ke perpustakaan sekolah.
Kepala SMPN 7 Haruai, Hj Siti Muthmainnah mengatakan, ada beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca siswa seperti penggunaan media sosial, game online hingga keterbatasan belajar di rumah karena sebagian siswa turut membantu orang tua bekerja.
Ketika proses pembelajaran berlangsung, banyak siswa yang belum membaca materi sebelumnya dan saat ditanya, siswa hanya tersenyum karena tidak mengetahui jawabannya.
“Dari situlah kami bersama para guru berdiskusi mencari solusi untuk meningkatkan budaya membaca di sekolah,” katanya, Senin (01/06/2025).
Melalui forum Komunitas Belajar (Kombel), para guru kemudian merancang program Bapamit yang mewajibkan siswa meluangkan waktu 10 menit setiap pagi untuk membaca sebelum mengikuti pembelajaran di kelas.
Program ini dilaksanakan dengan mengoptimalkan fungsi perpustakaan sekolah, sehingga setiap siswa diwajibkan berkunjung ke perpustakaan, memilih buku yang telah dipinjam, kemudian mencatat judul dan halaman bacaan pada buku tamu yang disiapkan guru piket.
Kegiatan membaca dapat dilakukan di dalam maupun di luar ruang perpustakaan sesuai kenyamanan siswa. Setelah waktu membaca berakhir, siswa masuk ke kelas untuk mengikuti proses belajar mengajar.
“Sekarang tanpa diminta, siswa langsung menuju perpustakaan untuk melaksanakan BAPAMIT. Mereka lebih semangat dan lebih siap menerima pelajaran,” jelasnya.
Hasil penerapan Bapamit ini, pada tahun ajaran 2024/2025, tingkat minat baca siswa meningkat hingga mencapai 85 persen.
Bahkan pada tahun ajaran 2025/2026 terjadi kenaikan kembali sebesar 21,05 persen yang terlihat dari data rapor pendidikan serta peningkatan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Tidak sampai di situ, program ini juga meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran.
“Kami lebih mudah melakukan apersepsi karena siswa mampu menjawab pertanyaan terkait materi yang telah dipelajari sebelumnya,” jelasnya.
Menurutnya, keberhasilan dalam penerapan program ini tidak terlepas dari kolaborasi seluruh warga sekolah, termasuk peran orang tua.
Sekolah secara aktif berkomunikasi melalui grup WhatsApp untuk mengajak orang tua mendampingi anak belajar dan membaca kembali materi pelajaran di rumah.
Program ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia.
Adapun keunggulan program Bapamit di antaranya pelaksanaannya yang sederhana, mudah diterapkan setiap hari, memiliki sistem pemantauan melalui buku kunjungan perpustakaan serta mampu membentuk kebiasaan membaca secara berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan membaca yang dilakukan secara rutin terbukti membantu siswa lebih cepat memahami materi pembelajaran, meningkatkan kepercayaan diri saat mengikuti pelajaran di kelas, dan memperkuat sinergi antara sekolah dengan orang tua.
“Tujuan utama program ini adalah membangun kebiasaan membaca sehingga siswa selalu siap mengikuti pembelajaran dengan suasana yang menyenangkan dan penuh semangat,” ujar Siti.
Diketahui, melalui inovasi Bapamit, SMPN 7 Haruai menunjukkan peningkatan budaya literasi dapat diwujudkan melalui langkah sederhana namun konsisten.
Program ini kini menjadi salah satu upaya nyata sekolah dalam membentuk generasi yang gemar membaca dan memiliki kesiapan belajar yang lebih baik. (sah)






