sekata.id, TANJUNG – Guru di SDN 2 Pembataan, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong menerapkan program Penanganan Awal Disleksia (Padi).
Program ini diperuntukkan bagi siswa kelas I dalam upaya penanganan awal diteksi permasalahan siswa dalam membaca.
Guru Kelas I SDN 2 Pembataan, Frida Aritatul Rahmawati menyampaikan, bahwa membaca adalah proses melihat dan memahami tulisan, baik secara lisan maupun dalam hati untuk mengambil informasi dan makna yang terkandung didalamnya.
Hanya saja tidak sedikit orang dapat melakukannya dengan baik seperti membaca permulaan banyak peserta didik yang mengalami gangguan membaca atau disebut Disleksia.
Disleksia merupakan gangguan proses belajar yang berpengaruh pada kemampuan membaca, menulis dan berbicara. Gangguan saraf pada bagian otak yang memproses bahasa membuat penderita disleksia kesulitan dalam mengidentifikasi huruf maupun kata-kata.
Meski berdampak pada proses belajar, disleksia tidak memengaruhi kecerdasan seseorang dan tidak benar jika pengidap disleksia dianggap memiliki kecerdasan di bawah rata-rata.
“Inovasi atau program Padi ini lahir sebagai salah satu upaya membantu peserta didik yang mempunyai permasalahan dalam membaca permulaan pada SDN 2 Pembataan,” ucapnya, Rabu (13/08/2025).
Menurutnya, program tersebut agar peserta didik tidak merasa terbebani dalam membaca permulaan sehingga kegiatan belajar membaca menjadi menyenangkan dan mudah untuk dipahami.
“Program Padi secara konsisten dilaksanakan di SDN 2 Pembataan sejak Agustus 2023 lalu, karena tidak semua guru ataupun orang tua sadar bahwa anak-anak mereka mengalami gangguan disleksia,” ujarnya.
Dalam penerapannya, setiap Senin sampai Kamis dari hasil pemetaan awal membaca peserta didik Fase A yaitu kelas 1 yang mengalami gejala Disleksia di kelompokkan dan diberi tambahan belajar membaca secara intensif.
Tanbahan belajar membaca ini dengan menggunakan media gambar, buku bergambar, bermain pazzel, game, melengkapi huruf rumpang, bernyanyi dan lainnya.
Program ini diinisiasi oleh guru kelas 1C, Frida Aritatul Rahmawati. Menurutnya Disleksia adalah gangguan proses belajar yang berpengaruh pada kemampuan membaca, menulis, dan berbicara.
“Melalui program ini diharapkan peserta didik dengan gangguan disleksia dapat membaca huruf maupun kata dengan mudah, menyenangkan dan tidak merasa terbebani. secara berangsur-angsur dapat sembuh dari gangguan disleksia dengan berlatih secara intensif disekolah maupun dirumah. Kerjasama antara guru dan orang tua juga merupakan factor penting progam ini berjalan dengan baik untuk peserta didik dalam gangguan disleksia,” harapnya. (sah)






