Guru SDN Dukuh Tabalong Terapkan Program Batampungas Sebagai Upaya Tingkatkan Literasi Siswa

Para siswa SDN Dukuh di Desa Banyu Tajun, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong yang mulai gemar membaca melalui program Batampungas (foto: sdn dukuh)

sekata.id, TANJUNG – Kemampuan literasi, terutama membaca dan menulis menjadi salah satu kunci utama dalam keberhasilan pendidikan.

Namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa SDN Dukuh di Desa Banyu Tajun, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong masih belum sesuai dengan harapan.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan observasi langsung dan data dari Rapor Pendidikan pada 2023, terlihat bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam membaca dengan lancar bahkan mengekspresikan ide secara tertulis menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih sulit.

Banyak siswa di kelas yang lebih nyaman bercerita secara lisan dibanding menulis. Mereka seringkali mengabaikan tata penulisan yang benar dan hanya fokus agar tugasnya selesai.

Selain itu, suasana sudut baca yang sepi juga menjadi tanda bahwa minat membaca masih rendah. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi prestasi belajar, tetapi juga berdampak pada pengembangan diri siswa serta pencapaian target pendidikan di sekolah.

Atas permasalahan siswa tersebut, Guru SDN Dukuh merancang sebuah program inovatif yaitu Belajar Literasi Membaca Menulis Pembiasaan Satu Minggu Berkualitas (Batampungas).

Program ini mulai terapkan sejak 17 Febuari 2024 sebagai upaya sistematis untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah dengan pendekatan berbasis kekuatan (asset based thinking).

“Program ini memanfaatkan berbagai aset sekolah termasuk guru, buku, ruang kelas, orang tua, masyarakat dan lingkungan sekitar untuk menciptakan lingkungan yang mendorong siswa aktif membaca dan menulis setiap hari,” kata Guru SDN Dukuh, Ibrahim, Kamis (14/08/2025).

Dalam penerapannya, setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, siswa diberi kesempatan untuk membaca buku atau menulis apa yang mereka pikirkan, baik dari imajinasi, cerita atau pengalaman pribadi dan tulisan-tulisan tersebut kemudian diperiksa dan diberikan masukan oleh guru.

Setiap hari Sabtu, siswa menulis berdasarkan tema yang ditentukan dengan hasil akhir berupa cerita, puisi, pantun, catatan harian, bahkan lagu. Karya-karya siswa ini dipajang di mading kelas dan mendapatkan apresiasi dari teman-temannya melalui kolom komentar.

Selain itu, program Batampungas ini tidak hanya membiasakan anak menulis, tetapi juga melatih siswa untuk berani berkarya, menghargai pendapat orang lain, serta memperhatikan cara penulisan yang benar.

“Juga Adanya sistem kepengurusan mading kelas juga membentuk tanggung jawab dan kerja sama antar siswa,” ungkapnya.

Ibrahim menjelaskan, setelah beberapa bulan berjalan program ini dengan hasilnya yang menunjukkan dampak positif yang mana siswa lebih rajin membaca, lebih lancar menulis dan mulai menunjukkan peningkatan dalam hasil belajar.

“Ruang baca mulai ramai dikunjungi dan mading kelas menjadi tempat yang ditunggu-tunggu karena menjadi media ekspresi kreativitas anak-anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, komitmen dan kolaborasi seluruh warga sekolah, Batampungas menjadi bukti nyata bahwa perubahan dalam literasi bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Semoga program ini bisa terus berkembang dan menginspirasi sekolah lain dalam membangun budaya literasi yang kuat,” tambahnya. (sah)

Pos terkait