Media dan Upaya Terselubung Melemahkan Kiai dan Pesantren

(foto: dok pribadi M.Junaidi Guru PonPes AL-Islam Kambitin)

Oleh: M.Junaidi

Guru PonPes AL-Islam Kambitin

Bacaan Lainnya

sekata.id – Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat disuguhi tayangan dan pemberitaan dari sejumlah media televisi swasta nasional yang secara halus—atau bahkan terang-terangan—menyerang, mencitraburukkan, dan melemahkan posisi kiai serta pesantren di tengah publik. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pemberitaan, melainkan cerminan dari upaya sistematis untuk menggoyahkan otoritas moral dan spiritual yang selama ini dipegang kuat oleh ulama dan lembaga pesantren di Indonesia.

Pesantren merupakan benteng moral bangsa. Dari sanalah lahir para pemimpin yang berjiwa ikhlas, mandiri, dan berakar pada nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Kiai bukan sekadar guru agama, melainkan penjaga nilai, pengawal tradisi, sekaligus penuntun masyarakat dalam menjaga harmoni sosial. Maka ketika media menampilkan pesantren atau kiai hanya dari sisi negatif—tanpa konteks, tanpa verifikasi, dan tanpa keseimbangan informasi—sesungguhnya yang diserang bukan individu, tetapi marwah institusi keilmuan Islam yang telah berabad-abad menjadi fondasi peradaban Nusantara.

Sebagian media, dengan dalih independensi dan “pemberitaan faktual”, justru terjebak dalam framing yang bias dan tendensius. Mereka memotong realitas sesuai selera rating dan kepentingan ekonomi-politik. Tayangan sensasional tentang “santri yang salah jalan”, “pesantren bermasalah”, atau “kiai kontroversial” seolah menjadi agenda rutin yang menggiring opini publik untuk memandang dunia pesantren sebagai ruang tertutup, kolot, dan berpotensi bermasalah. Padahal, di balik layar, jutaan santri sedang belajar menegakkan ilmu, membangun karakter, dan mengabdi kepada negeri tanpa pamrih.

Upaya semacam ini jelas berbahaya. Ia mengikis kepercayaan masyarakat terhadap otoritas keagamaan dan menumbuhkan jarak antara umat dan ulama. Ketika masyarakat mulai meragukan para kiai dan lembaga pesantren, maka sesungguhnya sedang dibuka celah bagi masuknya ideologi-ideologi baru yang asing terhadap nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Media seharusnya menjadi mitra moral bangsa, bukan instrumen komersial yang menodai kehormatan lembaga pendidikan Islam. Kebebasan pers harus dijalankan dengan tanggung jawab dan kesadaran sosial, bukan dijadikan alat untuk menabur fitnah dan menciptakan kegaduhan.

Sudah saatnya publik bersikap kritis terhadap agenda-agenda tersembunyi yang berupaya merusak citra pesantren. Dan bagi para santri serta pengasuh pesantren, tantangan ini mestinya menjadi cambuk untuk semakin memperkuat komunikasi publik, menampilkan wajah Islam yang moderat, terbuka, dan penuh kasih sayang. Sebab pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan — ia adalah jiwa bangsa.

Pos terkait