sekata.id, TANJUNG – Bupati Tabalong, H Muhammad Noor Rifani memimpin apel kesiapsiagaan bencana kebakaran hutan atau lahan (Karhutla) dan kekeringan 2025 di Halaman Pendopo Bersinar, Rabu (20/08/2025).
Apel tersebut dilakukan atas penetapan status siaga darurat Karhutla dan kekeringan sejak 13 Agustus sampai 13 September 2025 di Bumi Saraba Kawa Tabalong.
Apel siaga bencana ini diikuti Kapolres Tabalong, AKBP Wahyu Ismoyo J, Wakil Ketua I DPRD Tabalong, H Mustafa, Sekda Tabalong, Hj Hamida Munawarah, perwakilan Forkopimda dan unsur pentahelix lainnya.
Bupati dalam sambutannya menyampaikan apel kesiapsiagaan ini merupakan sinergi dan kolaborasi serta bagian dari upaya terpadu menghadapi ancaman karhutla yang kerap melanda wilayah Tabalong terutama saat musim kemarau.
Pasalnya, bencana tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, kerugian ekonomi serta persoalan sosial yang luas.
“Oleh sebab itu, kesiapsiagaan sejak dini adalah kunci agar Tabalong tetap aman, nyaman dan sejahtera,” ucap sosok yang akrab disapa H Fani ini.
Berdasarkan prakiraan BMKG puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober 2025 dengan potensi kemarau yang lebih panjang dari biasanya.
Hal ini tentu menjadi peringatan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat koordinasi, serta menyiapkan langkah-langkah pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak meluas serta kekeringan dapat diantisipasi sejak dini.
H Fani menekankan, sebagai antisipasi bencana tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan di antaranya meningkatkan deteksi dini dan respon cepat dengan patroli rutin daerah rawan.
Lalu, memperkuat koordinasi lintas sektor, sinergi antara pemerintah daerah, TNI, polri, pelaku usaha dan masyarakat adalah kunci keberhasilan.
Selanjutnya, mendorong pencegahan berbasis masyarakat, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten serta memanfaatkan teknologi dan inovasi pemantauan titik panas berbasis satelit, sistem peringatan dini hingga modifikasi cuaca.
“Itulah langkah penting untuk mendukung pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Pemanfaatan teknologi ini akan sangat membantu mempercepat tindakan di lapangan,” tegasnya. (sah)






