Jaga Eksistensi Bahasa Banjar, Guru SDN 2 Hikun di Tabalong Hadirkan Inovasi Ali Baba

Inovasi Ali Baba yang dirancang Guru SDN 2 Hikun guna meningkatkan kompetensi guru dalam aktivitas pembelajaran (foto: sdn 2 hikun)

sekata.id, TANJUNG – Permasalahan mendasar dalam pembelajaran muatan lokal Bahasa Banjar di SDN 2 Hikun, Kabupaten Tabalong, karena rendahnya kompetensi guru dalam memahami dan menyampaikan materi secara efektif kepada peserta didik.

Kondisi ini tidak terlepas dari dominasi penggunaan Bahasa Indonesia dalam aktivitas pembelajaran serta latar belakang guru yang tidak seluruhnya merupakan penutur asli Bahasa Banjar.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, arus globalisasi dan digitalisasi semakin memperkuat pergeseran penggunaan bahasa daerah, sehingga mempercepat menurunnya eksistensi Bahasa Banjar di lingkungan sekolah.

Sebagai upaya menjaga kearifan bahasa daerah, yaitu Bahasa Banjar, lahirlah sebuah terobosan yang bernama Aksi Lindungi Bahasa Banjar (Ali Baba) yang dirancang salah satu Guru Wali Kelas 1A SDN 2 Hikun, Rusana Olfah.

Dijelaskannya, inovasi Ali Baba disusun secara sistematis melalui pendekatan berbasis kebutuhan mulai tahap perencanaan, pemetaan kompetensi guru, identifikasi kebutuhan pembelajaran, hingga penyusunan program penguatan kapasitas guru.

“Hasil analisis menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi tidak hanya terkait keterbatasan materi, tetapi juga belum tersedianya model pembelajaran yang mampu meningkatkan kapasitas guru secara berkelanjutan,” jelasnya, Selasa (02/06/2026).

Ia juga mengatakan, inovasi ini dirancang dengan menempatkan guru sebagai subjek utama perubahan, bukan hanya sekadar pelaksana pembelajaran.

Sehingga dalam tahapan pelaksanaannya dilakukan melalui mekanisme intervensi yang terstruktur, meliputi sosialisasi program, penyusunan materi berbasis kebutuhan, pelatihan intensif, serta pendampingan berkelanjutan dalam implementasi pembelajaran yang bersifat partisipatif dan aplikatif.

“Jadi, guru tidak hanya menerima materi, juga terlibat langsung dalam praktik pembelajaran yang kontekstual. Model ini memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dua arah yang mendorong peningkatan pemahaman dan keterampilan secara simultan,” katanya.

Menurutnya, seiring inovasi Ali Baba berjalan, terus mengalami perkembangan seperti materi pembelajaran yang disederhanakan agar lebih mudah diterapkan, metode pembelajaran komunikatif diperkuat, dan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi mulai diintegrasikan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik.

Hasilnya pun sangat berdampak. Seluruh guru pada 12 rombongan belajar (rombel) mulai kelas 1A hingga 6B sudah menerapkan pembelajaran Bahasa Banjar secara aktif.

“Jadi, terjadi peningkatan kompetensi guru dalam penguasaan materi dan penyampaian pembelajaran, yang diikuti dengan meningkatnya kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengaplikasikan Bahasa Banjar,” ujar Rusana.

Diketahui, melalui inovasi Ali Baba tidak hanya bermanfaat sebagai solusi pembelajaran, tetapi juga sebagai model intervensi pendidikan yang efektif dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah secara berkelanjutan di tengah dinamika globalisasi. (sah)

Pos terkait