Tingkatkan Minat Siswa Lestarikan Budaya Banjar, SMPN 2 Muara Harus Terapkan Inovasi Labar

penampilan para siswa SMPN 2 Muara Harus dalam pelestarian budaya lokal melalui penerapan inovasi Labar (foto: smpn 2 muara harus)

 

sekata.id, TANJUNG – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Muara Harus di Kabupaten Tabalong dalam pelestarian budaya lokal terus ditumbuhkan kepada para peserta didik.

Bacaan Lainnya

Upaya ini dilakukan melalui inovasi Lestari Budaya Banjar (Labar) dengan peningkatan pengetahuan sekaligus minat peserta didik terhadap warisan budaya Banjar yang mulai tergerus oleh pengaruh budaya luar.

Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan siswa bahwa lebih dari 50 persen belum mengetahui budaya lokal daerahnya, sehingga siswa kurang tertarik untuk mempelajari dan mempraktekkan budaya daerah.

“Mereka lebih menyukai budaya luar yang di anggap lebih menarik dan keren. Padahal khasanah kearifan lokal yang luar biasa dan merupakan warisan bangsa kita,” kata Guru SMPN 2 Muara Harus, Maulidya Rahma Hamdi, Selasa (14/07/2026).

Ia juga mengungkapkan, sekolah merupakan sarana yang vital dalam menyampaikan warisan budaya dari generasi ke generasi agar tidak punah.

Dalam hal ini, melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan inovasi Labar yang mengadaptasi budaya lokal di sekitar lingkungan peserta didik khususnya Desa Madang, Kecamatan Muara Harus.

Pelaksanaan program diawali dengan diskusi antara guru dan siswa untuk mengidentifikasi berbagai warisan budaya Banjar, mulai dari budaya keagamaan, sosial, adat istiadat hingga kesenian daerah.

“Hasil diskusi kemudian dipresentasikan untuk menentukan fokus proyek sekaligus menyusun jadwal pelaksanaan mulai tahap persiapan hingga panen karya,” ungkap Rahma.

Selanjutnya, siswa melakukan eksplorasi terhadap berbagai bentuk budaya lokal melalui pembelajaran berbasis proyek kearifan lokal dan mempresentasikan untuk digali lebih dalam.

Hasil pembelajaran ini diwujudkan dalam aksi nyata berupa pameran produk kerajinan, makanan khas Madang, serta penampilan seni budaya daerah seperti Tari Radap Rahayu, Japin Kuala, Maulid Habsyi, dan pertunjukan musik tradisional.

“Melalui program ini kami ingin membangun karakter peserta didik yang kolaboratif, mandiri, dan kreatif sesuai minat dan bakat mereka, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, inovasi Labar juga memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hingga penyajian hasil karya.

Selain itu, kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah desa, masyarakat, sekolah, dan Dinas Pendidikan, sehingga tercipta kolaborasi dalam upaya melestarikan budaya lokal.

“Berdasarkan evaluasi pengetahuan melalui kuis dan observasi, seluruh siswa dinyatakan tuntas. Sebanyak 83 persen peserta didik memperoleh predikat sangat memuaskan (A), sedangkan sisanya memperoleh predikat memuaskan,” tambahnya.

Diketahui, hasil survei kepada peserta didik menyatakan 100 persen siswa mengaku minatnya terhadap kebudayaan daerah meningkat. (sah)

Pos terkait