sekata.id, TANJUNG – Rendahnya minat baca dan pemahaman akan pentingnya literasi bagi peserta didik di SDN 2 Hikun, Kabupaten Tabalong menjadi tantangan para guru.
Di SDN 2 Hikun, khususnya kelas 5A yang diampu Elyana Sasmita sebagai wali kelas, dari 22 siswa hanya sekitar 68 persen yang mampu memahami maksud teks dan menangkap kata kunci dalam soal.
Selain itu, siswa juga masih mengalami kendala dalam aspek teknis penulisan seperti penggunaan ejaan yang belum tepat dan huruf yang tertinggal.
Menghadapi permasalahan yang dialami peserta didik tersebut, lahirlah program inovasi yaitu Gerakan Budaya Literasi (Gebu Literasi) yang diterapkan melalui membaca 15 menit dan hasil bacaan dikaryakan dalam mading digital.
“Sebagian siswa masih membaca tanpa memahami isi bacaan secara menyeluruh. Hal ini menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program literasi di sekolah,” kata Elyana, Rabu (03/06/2026).
Dijelaskannya, langkah awal penerapan program Gebu Literasi diawali dengan pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Hasil bacaan kemudian dituangkan dalam bentuk review yang ditempel pada mading kelas, namun tingkat capaian hanya 73 persen.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan mading fisik mulai menghadapi kendala, seperti keterbatasan ruang, tumpukan review yang berisiko rusak atau hilang, serta kurangnya interaktivitas yang membuat siswa cepat merasa bosan.
Melihat kondisi ini, pada tahun 2025 dilakukan pembaruan dengan mengubah konsep mading konvensional menjadi mading digital berbasis teknologi.
Transformasi ini dilakukan melalui pemanfaatan Google Sites yang dapat diakses melalui link https://s.id/MadingdigitalVA sebagai media publikasi karya literasi siswa.
Kemudian siswa membuat review dalam bentuk tulisan digital maupun video sesuai tingkat kepercayaan diri masing-masing. Hasil review diunggah ke platform Google Sites yang berfungsi sebagai mading digital permanen.
“Setiap karya juga dilengkapi dengan QR Code unik yang ditempel di depan kelas dan dibagikan melalui grup WhatsApp sehingga dapat diakses oleh guru, siswa maupun orang tua,” jelasnya.
Menurut Elyana, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa, tetapi juga memperkenalkan mereka pada dunia publikasi digital dan pemanfaatan teknologi informasi sejak dini.
“Anak-anak menjadi lebih termotivasi karena karya mereka bisa dibaca oleh banyak orang. Mereka merasa bangga ketika hasil review dipublikasikan secara digital,” ujarnya.
Program ini juga memberikan manfaat dalam hal pengarsipan karya siswa yang lebih sistematis dan permanen, sekaligus memudahkan orang tua memantau perkembangan literasi anak dari rumah.
Hasilnya, setelah dilakukan pembaruan pada tahun 2025, capaian literasi siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan yang kini mencapai 85 persen.
“Jadi 85 persen siswa mampu memahami isi bacaan, menangkap informasi penting, menemukan kata kunci dalam soal, serta menulis dengan penggunaan ejaan yang lebih baik,” lanjutnya.
Diketahui, secara kualitatif, program ini juga menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri siswa. Siswa lebih aktif membaca, menulis, serta berani menyampaikan hasil pemahaman bacaan melalui media digital.
Melalui inovasi Gebu Literasi berbasis mading digital, SD Negeri 2 Hikun diharapkan dapat menciptakan ekosistem literasi yang lebih modern, efektif, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung penguatan budaya membaca di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan program inovasi Gebu Literasi di SDN 2 Hikun ini juga dapat dilihat melalui tayangan video melalui link https://youtu.be/TGpqBXuagbo?feature=shared. (sah)






