sekata.id, TANJUNG – Belakangan ramai pemberitaan terkait sejumlah partai politik yang mengusung generasi milenial sebagai bakal calon legislatif (bacaleg) untuk berkontestasi pada Pemilu 2024 mendatang.
Tentu saja, dengan mengusung generasi milenial parpol berharap dapat lebih mendominasi raihan suara dari anak muda, khususnya pemilih pemula.
Menanggapi fenomena ini, Pemerhati Politik Banua, Kadarisma menilai millenial sejatinya bukan merupakan sumber kekuasaan, sehingga tidak berpengaruh banyak dalam harapan partai politik mendongkrak perolehan suara dalam pemilihan anggota legislatif.
Menurutnya, hal yang dapat mempengaruhi bukan karena millenialnya, tapi sumber kekuasaan yang melekat di belakang kemillenialannya, seperti misal, dia pengusaha muda, anak orang kaya, anak penguasa, atau figurnya memang populer atau yang dijadikan role model bagi kalangan millenial.
“Tanpa sumber kekuasaan yang melekat di balik kemilinealan tersebut tidak akan mengangkat suara partai. Millenial hanya akan menjadi pemain figuran sebagai pelengkap semata,” ungkapnya.
Kadarisma menyebut, kelompok millenial di Tabalong sendiri belum teruji. Beberapa orang millenial yang masuk saat ini duduk di DPRD Tabalong gagal merepresentasikan dirinya sebagai wakil rakyat yang millineal.
“Kalian cari sendirilah, anggota DPRD yang kelahirannya di rentang 1981 – 1995 yang saat ini duduk di legislatif, apa pernah mendengar suaranya memihak rakyat,” tanyanya.
Kadarisman pun mengingatkan, ada resiko tersendiri memilih kalangan millenial. Resikonya karena letarasi politik mereka yang karbitan. Rata-rata mereka masuk ke kancah politik praktis hanya ikut tren semata atau pelengkap saja, sehingga tidak memiliki konsep – konsep politik yang hendak dikontribusikan buat kebaikan masyarakat.
“Kondisi itu sebenarnya tantangan millenial untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dalam tujuan tujuan berpolitik. Politik bukan ladang pekerjaan, tetapi ladang tempur agar melahirkan legislasi kebijakan bersama – sama pemerintah yang berhikmat untuk rakyat,” bebernya.
Apalagi lanjut Kadarisman, figur millenial yang didapuk parpol adalah dari kalangan hawa, itu hanya sebagai memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan saja.
“Parpol pun sebenarnya tidak serius mengusung kaum perempuan. Buktinya 30 persen kuota perempuan itu rata-rata tidak menempati posisi nomor urut 1, tapi nomor urut di bawah itu,” tukas Kadarisman. (arf)